Sekarang
menunjukkan pukul 23.40 tapi mataku belum bisa tertutup. Kunyalakan kembali
lampu kamarku, ku bukaka tirai yang menutupi jendela. Hujan di luar sana masih
turun dengan derasnya. Apakah besok hujan juga akan turun seperti ini ? ah
pikiranku buyar kemana-mana. Ku ambil telpon genggamku yang berada diatas meja,
aku membuka twitter dan mengetik beberapa kata “I don’t know why I can't
sleep tonight, but I thing maybe because him. Yeah him” setelah mengetik twit
itu aku mengirimnya. Untuk mengatasi rasa bosanku aku mengecek time line.
Beberapa menit kemudian rasa ngantuk mulai menyergapiku dan ku putuskan kembali
ketempat tidurku yang hangat. Saat aku bersiap kembali untuk tidur tiba-tiba
hpkupun berbunyi kulihat namanya sekilah “Mr Pd” omg aldo nelpon aku ?. dengan
secepat kilat aku menekan tombol angkat dan mulailah muncul suara berat yang
sangat aku sukai dari ujung telpon disana.
“hay miss sleep apakan anda begadang lagi malam ini ?”
suaranya terngar sedikit jail.
“aku tidaj begadang” kataku dengan berpikir kembali “tapi
aku hanya tidak bisa tidur” lanjutku.
“because him ? that’s right miss sleep ?” perkataannya yang
membuatku terdiam “but who is him?”
Kata-katanya itu membuatku diam seribu bahasa. Kenapa dia
harus bertanya tentang itu ? kenapa dia harus bertanya sekarang ? arggg aku
tidak dapat berkata apapun selain “apa ? tau dari mana do ?”
“hm dari twitter haha. Tapi kenapa pertanyaanku ga kamu
jawab ? atau jangan-jangan yang kamu maksud dia itu aku yah ?” seketika rasanya
seperti dia menembak kearahku dengan tepat sasaran.
“tau ah, aku ngantuk, mau tidur sudah yah bye” setelah
mengatakan itu aku menutup telpon. Yah ampun apa yang baru saja aku katan ?
apakah itu terlalu jelas bahwa yang aku maksud adalah dia ? kenapa aku jadi
salting sendiri ?. entah apa yang harus kulakukan besok pagi saat bertemu
dengannya nanti.
##
Pagi
hari yang tidak cerah. Langit masih tampak kelabu dan udara lembab yang
memenuhi seisi kota. Aku berjalan menuruni tangga siap untuk berangkat
kesekolah. Hari ini aku akan di antar kesekolah karena hujan sepertinya akan
turun dengan sangat derasnnya. Kulihat papa, mama dan kak Danar sedang sarapan
di atas meja makan. Aku menghampiri mereka ku cium pipi papa dan mama, kemudian
duduk di samping kak danar. Kak danar seperti biasa mengacak rambutku yang
telah rapih ku sisir, dia memang senang membuatku merasa sebal dan marah
kepadanya. Tapi setiap kali aku marah kepadannya yang ada dia hanya tertawa
tanpa rasa bersalah sedikitpun. Inilah kegiatan rutinitasku di pagi hari. Banyak
orang yang bilang keluargaku adalah keluarga yang harmonis aku rasa memang begitu,
tapi itu hanya di pagi hari karena setelah pagi hari semua akan sibuk dengan
rutinitasnya masing-masing. Mama dan papa akan pergi bekerja, kak danar kuliah
dan aku sekolah. Mama dan papa selalu pulang larut malam ketika aku sudah
tidur, kak danarpun begitu katanya dia sibuk mengerjakan banyak tugas
kuliahnya. Aku mengerti karena kak danar adalah mahasiswa kedokteran yang super
duper sibuk dan tugas yang menumpuk. Pernah sekali aku menihatnya membawa 3
buku tapi yang tebalnya mungkin 1 buku ada seribu halaman. Itulah hal yang
membuatku merasa kesepian, karena ketika pulang sekolah aku sendirian dirumah
hingga larut malam. Itu hal yang membuatku menyukai kesendirian pelahan demi
perlahan. Aku tidak terbiasa menceritakan masalahku kepada orang lain. Karena aku
tidak pernah di biasakan.
Sekolah
sudah rame. Yah karena hari ini aku dianta oleh kakak danarku yang tercinta
yang juga lelet banget al hasil ketika aku sampai disekolah pada saat itu juga
bel berbunyi. Aku setengah berlari menuju kelas takut kalau misalnya guru
mendahuluiku ke dalam kelas. Aku tidak ingin memecahkan rekorku di sekolah
sebagai satu-satunya siswa yang tidak pernah terlambat walaupun baru beberapa
bulan.
Aku duduk
dikursiku seperti biasa. Di sampingku telah ada aldo yang membaca komik yang
sepertinya baru ku lihat. Mungkin dia telah membeli komik baru. Ya ampun aku
teringat percakapanku semalam bersama aldo. Asataga kenapa aku tidak sadar akan
itu ?. iqbal ketua kelaskupun berteriak membuyarkan lamunanku “teman-teman hari
ini guru pada rapat mungkin sampai pulang sekolah, so kita di suruh belajar
dirumah saja” setelah mendengar itu seluruh penjuru kelaskupun bersorak gembira.
Aku berbeda dari mereka yang senang ketika disuruh pulang, aku selalu merasa
lebih baik disekolah dari pada dirumah sendirian.
Saat yang
lain beranjak pulang aku masih duduk di bangkuku. Aku membuka tasku dan
berusaha mencari barang yang selalu aku bawa kemana-mana dan aduh hari ini aku
lupa membawanya “headsetku” bakala membosankan nih kalau aku membaca nover
terbaruku disini tanpa headset itu, tiba-tiba terdengar suara “lupa bawa
headsetnya yah ? mau pinjam punyaku ?”
“ha’ iya makasih yah
Al” dia seaakan bisa membaca pikiranku. Kuterima headset yang diberikannya. Headsetnya
berwarna merah hitam jauh berbeda dengan punyaku yang berwarna pink, aku sangat
menyukai warna pink.
“kamu ga pulang sya ?” tanya aldo yang sepertinya sudah
menyadari hanya tinggal kami berdua di kelas.
“males, ngapain coba pulang cepat kalau ujung-ujungnya
sendirian dirumah” kataku sambil merogoh tasku dan mengambil sebuah novel yang
baru di belikan kak danar kemarin.
Aku memperhatikan raut mukanya “trus kenapa tdak ikut sama
Audri dan teman cewek yang lain ke mall ? sepertinya mereka mau shoping atau
melakukan sesuatu yang cewek-cwek sukai”
“aku tidak suka jalan bareng mereka, bukan apanya tapi aku
malas jika mendengar mereka ngerumpi atau mencela orang lain. Aku gak suka
seperti itu” jawabku panjang lebar dan apa adanya.
“terus kamu sukanya apa dong ?” raut wajahnya memancarka
keingin tahuan yang dalam hingga membuatku ingin tertawa. “aku sukanya baca
novel sambil denger lagu. Gitu aja udah buat aku senang. Tidak ribetkan. Haha”
“kalau temenin aku ketoko buku terus pergi makan kamu suka
tidak ? soalnya aku mau pergi tapi malas pergi sendiri”saat kata-kata itu
terlontar aku hanya bisa diam. Ini pertama kalinya aldo ajak aku pergi. “diam
artinya setuju” katanya dengan gaya sok taunya dan tiba-tiba menarik tangan dan
tasku dan jalan menuju keparkiran.
Aldo
mengambil helm yang ada dia atas tempat duduk belakan motornya dan memakaikannya
diatas kepalaku. Rasanya jantungku hampir meloncan keluar saat dia mengaitkan
pengait helm itu, saat itu mukanya hanya berharak beberapa senti dari mukaku. Entah
ada perubahan apa di raut wajahku tapi aku hanya bisa terdiam. Tanpa ku sadari
aldo telah memakai helmnya dan sudah membunyikan motornya dan menyuruhku naik. Aku
mengikuti perintahnya. Saat motor berjalan dia menyuruhku untuk memegangnya
tapi aku hanya memegang jaketnya, kemudian dia menarik tanganku untuk
memeluknya dengan alasan “pegangan yang kencang nanti kamu jatuh, aku mau
ngebut”. Entah itu alasan logis atau dia hanya berpura-pura, tapi setidaknya
aku ingin waktu berhenti sekarang juga.
To be continued
Komentar
Posting Komentar